Setiap mahasiswa yang telah wisuda pasti merasakan euforia yang teramat sangat. Perjuangan bertahun-tahun dengan setiap tahapan yang harus dijalani akhirnya comes to "an end". Nggak sepenuhnya "an end" sih. Akhir dari serangkaian label mahasiswa mulai dari ospek, kkn, jadi aktivis, sampe akhirnya dihadapkan dengan skripsi. Senang pastinya bisa lihat orang tua tersenyum menghantarkan anaknya disebut namanya di hall GSP dengan gelar baru melekat. Setelah itu sesi foto dimulai, bahkan nggak dikit yang harus menyewa fotografer or booking studio demi mengabadikan moment. Nggak lengkap rasanya buat generasi kekinian untuk upload foto ala2 ke instagram. Tapi setelah itu? Perjuangan dimulai. Cari Kerja!
Buat aku dan beberapa teman-teman yang lain masih sedikit lega karena masih ada alasan untuk menjawab, "lanjut kerja dimana?" karena masih ada yang namanya pendidikan profesi. Tapi ternyata, perjuangan menempuh gelar profesi cukup menguras tenaga, sampai akhirnya setahun terlewati sudah tanpa terasa. Diskusi, Praktek, kompre, OSCE, sampai uji kompetensi pun sudah terlewati dan sumpahan di depan mata. Aku nggak punya alibi lagi untuk menjawab pertanyaan horor bagi fresh graduate itu. No matter what aku harus segera mendapatkan pekerjaan!
Mencari pekerjaan nyatanya nggak segampang nyari IPK cumlaude di profesi. Kalau kata temen, kerjaan itu kayak jodoh, pasti akan indah pada waktunya. Tapi melihat beberapa teman yang sudah mendapatkan pekerjaan bahkan udah mulai kerja, perasaan was was mulai muncul. Kegalauan mulai datang, kapan giliranku dapat kerja? Kalau ketika kuliah sering terdoktrin, orang yang pintar belum tentu mudah mencari pekerjaan, atau mahasiswa aktivis akan lebih mudah dapat kerja. Itu gak sepenuhnya bener guys! Nyatanya temanku yang soft skills nya kece ada yg masih struggling buat dapat sumber nafkah. Ada yang bukan aktivis dan biasa-biasa aja malah tinggal tanda tangan kontrak. Wkwkwkw. Namanya juga rejeki, siapa yang tau?
Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6)
Kita hanya bisa berusaha maksimal. Rejeki memang di tangan tuhan, tapi toh kita harus menjemputnya kan? Kalau segala daya upaya telah dilakukan maka selanjutnya tinggal menyerahkan diri kepada Allah. Harus yakin dengan janji Allah, bahwa Allah pasti akan mencukupkan rejeki bagi seluruh makhluk Nya. Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu".
Kita hanya bisa berusaha maksimal. Rejeki memang di tangan tuhan, tapi toh kita harus menjemputnya kan? Kalau segala daya upaya telah dilakukan maka selanjutnya tinggal menyerahkan diri kepada Allah. Harus yakin dengan janji Allah, bahwa Allah pasti akan mencukupkan rejeki bagi seluruh makhluk Nya. Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu".
Tulisan ini aku buat untuk menjadi pengingat dan penyemangat buatku sembari kesana kemari mencari pekerjaan. Agar aku tidak terlalu was was memikirkan this job seeking thing. Semoga aku segera mendapatkan pekerjaan yang terbaik buatku dan aku bahagia dengan pekerjaan itu. Aamin. Wallahu khairu raaziqiin, dan Allah sebaik-baik pemberi rejeki.
Komentar
Posting Komentar